
Sejak presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan tentang urgensi character building (pembentukan watak) pada tanggal 11 Mei 2010 tepatnya pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional, banyak pihak seolah tersadar dari tidurnya selama ini, bahwa keadaan sosial masyarakat Indonesia dewasa ini semakin dekat dengan kebobrokan karakter. Di berbagai media, berita yang beredar memaparkan bahwa mulai dari kalangan elit sampai kalangan sulit, baik anak-anak maupun orang tua telah mengalami degradasi moral.
Dewasa ini, menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas , krisis yang dihadapi dunia pendidikan pada umumnya adalah krisis adab, bukan krisis pendidikan dan pengajaran sebab pendidikan dan pengajaran telah berlangsung dimana-mana. Selain itu, terjadi dikotomi ilmu dengan nilai-nilai luhur agama sehingga di dalam ilmu itu tidak terkandung muatan adab bagaimana seharusnya ilmu tersebut diamalkan.
Indonesia yang kehausan kini seolah berada di tengah padang gersang dan sangat membutuhkan mata air untuk menghilangkan dehidrasi moral. Pesantren adalah salah satu solusi, mata air yang dapat melegakan dahaga itu. Di Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu telah berdiri kokoh pesantren-pesantren dengan ciri khas dan kharismanya masing-masing. Semua pesantren pada dasarnya memegang tiga prinsip pokok, yaitu ilmu, amal, dan ikhlas. Tiga pokok lainnya adalah iman, islam, dan ihsan atau dalam bahasa lain aqidah, syariah, dan akhlak. Setiap pesantren adalah unik, ada pesantren yang berkonsep salaf seperti Sidogiri yang merupakan pesantren tertua di pulau Jawa. Ada juga pesantren berkonsep modern seperti Gontor. Baik pesantren salaf maupun modern, keduanya telah menunjukkan eksistensinya masing-masing yang luar biasa di tengah masyarakat.
Kontribusi pesantren terhadap Indonesia sangatlah besar, sejak zaman perjuangan melawan penjajah hingga saat ini dalam hal penanaman moral bangsa. Dengan kesederhanaan dan ketulusan, pesantren mengemban amanah yang tidak mudah. Pesantren merupakan salah satu opsi dalam menyelamatkan bangsa dari keterpurukan mental dan moral generasi muda, atas dasar itu yang menjadi alasan sebagian besar orang tua untuk memondokkan anak-anaknya di pesantren.
Santri, sebutan bagi pelajar di pesantren, selain belajar ilmu pengetahuan umum santri juga belajar ilmu agama yang lebih kompleks dengan bimbingan langsung dari guru. Guru di pesantren selain berperan sebagai tenaga pendidik, guru juga sebagai orang tua baru bagi santri. Setiap guru yang ada di pesantren memiliki fungsi konseling yang sangat optimal bagi santri, oleh karenanya sering kali hubungan santri dengan guru akan tetap erat meskipun santri telah lulus dari pesantren.
Dalam keadaan jauh dari orang tua, para santri diajarkan untuk hidup mandiri dan sederhana, misalnya dengan menyantap menu makanan yang biasa setiap hari. Selain itu tempat tidur mereka seringkali juga sederhana. Setiap hari, para santri diharuskan untuk bangun pada dini hari untuk kembali menjalankan aktivitas mereka yang padat. Untuk menggunakan fasilitas pesantren, santri harus antre cukup lama untuk menunggu gilirannya. Seorang santri harus benar-benar mampu bertoleransi dengan santri lainnya. Santri sudah terbiasa makan sedikit dan tidur sedikit, itulah ciri khas santri.
Di pesantren, baik guru maupun santri sangat menghargai nilai kejujuran dan ketaatan. Jika salah seorang dari santri melanggar, maka mereka akan menerima konsekuensi yang sesuai dari pelanggaran yang mereka lakukan. Tidak hanya sekedar hukuman, tetapi santri lebih memaknai kesalahan yang mereka perbuat sebagai intropeksi diri sehingga santri tidak akan berusaha mengulanginya lagi. Di pesantren, sikap disiplin dan tanggung jawab santri benar-benar dibentuk.
Secara tidak langsung karakter lulusan pesantren terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil di atas. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada lulusan pesantren yang berkarakter kurang baik, tetapi sudah menjadi bukti bahwa sebagian besar lulusan pesantren tidak perlu diragukan lagi telah mampu menunjukkan pengabdian dan manfaatnya bagi masyarakat. Sepanjang sejarah di Nusantara pesantren terbukti mampu melahirkan ulama-ulama hebat. Oleh karenanya pesantren sebagai icon bangsa harus dipertahankan dan terus dilestarikan.


0 komentar:
Post a Comment