Sunday, June 10, 2012

my Fam


sefrina




3 generasi




ibuku ada 2 :p




mz ari, mb eka




Friday, June 8, 2012

Efforts to Improve Student’s Emotional Quotient by Using Quantum Teaching Model in Physics Learning at School

abstrak kti yg bhs inggrisnya so kacau :P



Nowadays, education development is still emphasizing Intellegence Quotient, better than Emotional Quotient of student in learning process. Actually, that is not a guarantee that student who has higher IQ will get a good life than student with lower IQ in future. The main problem in physics learning is that many students have judged physics as a difficult lesson which has so many formulas. The conventional and monotonous process in physics learning is still being teacher’s choices. Many teachers can not relate between Intellegence Quotient and Emotional Quotient of student in learning, so the learning is being bored for them. Emotional Quotient is related to emotion development that depends to a specific time and condition which happened by somebody. Quantum Teaching is a right model of learning that can involve Emotional Quotient aspect in learning process. The objectives of this scientific paper is to know some efforts to improve Emotional Quotient of student with Quantum Teaching model in physics learning at school and to know its influences to students. Physics learning is a feed back process between teacher and student in teaching and learning process that learn about nature phenomena. Emotion depends to people’s stimulation to their physiological in specific time and place. Emotional Quotient is a use of emotion effectively to reach an objective and develop relation of people productively. Quantum Teaching is a model of learning where student can study in comfort and happy condition without decrease their concentration in reaching the material. The scenario of Quantum Teaching model is covered by word “TANDUR” that is Tumbuhkan (grow up), Alami (experiencing), Namai (give a name), Demonstrasikan (demonstrate), Ulangi (try again), dan Rayakan (celebrate). There are so many fail of student in receiving information from their teacher is caused inexpediency between teaching style of teacher and learning style of students. Quantum Teaching is emphasized to environment figuration which is comfort for student in physics learning, both of macro or micro environment. Quantum Teaching serves three components to accelerate learning process effectively, that is: Speed memories, creative thinking, and speed reading. Suggestion concept is also one of character in Quantum Teaching, so by using this technique, teacher can grow the Emotional Quotient of student up. In physics learning process, physics teacher must be able give more variations in his/her explanation, like giving reinforcement, organize voice, organize body expression, organize mimic, expression and eye contacts to students. Beside that, teacher must be able give moral message directly, agree with the principal of Quantum Teaching that is: “Enter their world, bring their world to our world and give our world to their world”. The application of physics learning by using Quantum Teaching model can improve Emotional Quotient student so they will be people that are smart in intellegent and also smart in emotional.

(April, 2012)

INOVASI KURIKULUM ALTERNATIF YANG DIMUATI PENDIDIKAN NUKLIR UNTUK MENUMBUHKAN KESADARAN PENTINGNYA PLTN DI INDONESIA

pengalaman jd pemakalah ntk pertama kalinya, di Universitas Ahmad Dahlan - Yogyakarta

Agusta Danang Wijaya, Fitria Rahmawati, Sefrina Cahya Dwiastuti
Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember, Jember

Abstrak
Teknologi sangat erat kaitannya dengan energi listrik karena hampir semua teknologi yang dikembangkan membutuhkan energi listrik. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi tersebut, kebutuhan dunia akan energi listrik di masa depan juga semakin meningkat. Termasuk juga di Indonesia. Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia membutuhkan akan energi listrik dengan asupan yang sangat besar. Oleh karena itu diperlukan suatu pembangkit listrik yang memiliki daya besar. PLTN merupakan solusi alternatif yang dapat menanggulangi masalah kelistrikan di Indonesia. Tetapi PLTN telah menuai pro kontra dalam realisasinya. Hal ini disebabkan oleh kurang pahamnya masyarakat terhadap manfaat apa saja yang dapat diperoleh dari pembangunan PLTN ini karena hal yang diketahui oleh masyarakat hanyalah pada sisi negatifnya saja seperti kekhawatiran akan kebocoran reaktor. Gagasan ini merupakan hasil studi pustaka dari berbagai literatur yang mana melalui gagasan ini akan menjadi solusi inovativ-alternatif terhadap masalah penolakan PLTN di Indonesia.
Kata Kunci : Teknologi, Energi Listrik, PLTN, Pendidikan

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berbicara tentang teknologi maka berbicara framework berpikir jangka panjang karena teknologi setiap saat selalu berkembang. Dalam era globalisasi saat ini teknologi memiliki peran yang sangat urgen dalam kehidupan, dari hal yang sederhana hingga kompleks untuk dapat menggerakkan roda aktivitas manusia. Misalnya dibuktikan dengan kenaikan signifikan penggunaan hand phone hingga komputer tablet iPad yang sangat canggih.
Teknologi sangat erat kaitannya dengan energi listrik karena hampir semua teknologi yang dikembangkan membutuhkan energi listrik. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi tersebut, kebutuhan dunia akan energi listrik di masa depan juga semakin meningkat. Demikian pula di Indonesia, menurut data yang berasal dari CIA World Factbook 2004, kepadatan populasi penduduk Indonesia menempati urutan ke-4 di dunia setelah RRC, India, dan Amerika Serikat (Wikipedia, 2011). Hal ini dapat menunjukkan besarnya kebutuhan Indonesia sebagai negara berkembang akan energi listrik. Peningkatan kebutuhan listrik di Indonesia di kemudian hari diperkirakan dapat tumbuh rata-rata 6,5% per tahun hingga tahun 2020 (Susanto, 2008).
Konsumsi listrik yang besar tersebut akan menjadi suatu masalah bila dalam penyediaannya (supply) tidak sejalan dengan kebutuhan (demand). Diperkirakan hingga tahun 2030 konsumsi energi dunia masih tergantung kepada energi minyak bumi yang tidak terbarukan (Kementrian Luar Negeri RI, 2009). Padahal cadangan sumber energi tidak terbarukan (un-renewable resources) antara lain minyak bumi, gas, batu bara semakin menipis. Hal ini mengakibatkan semakin mahalnya harga sumber energi tersebut sehingga dapat memperparah krisis energi di dunia terutama energi listrik.
Indonesia juga mengalami krisis energi listrik seperti yang dialami berbagai negara lain di berbagai belahan dunia. Krisis energi ini sudah cukup lama dirasakan masyarakat yaitu dengan seringnya PLN (Perusahaan Listrik Negara) melakukan pemadaman listrik secara bergilir di Sumatera, Jawa, Bali, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Salah satu penyebab terjadinya krisis listrik yang berakibat pemadaman bergilir adalah pasokan bahan bakar minyak terbatas, sehingga ada mesin-mesin pembangkit yang tidak dapat dioperasikan (PLN, 2010). Menurut Hudi Hastowo, Kepala BATAN, potensi panas bumi Indonesia sebesar 28 gigawatt (GW) belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan Indonesia akan energi listrik. Demikian pula tenaga air yang semakin terbatas, tenaga angin yang kecepatannya tidak memenuhi syarat, tenaga surya yang pengadaan sel suryanya sangat mahal, dan energi alternatif lainnya (Tempo Interaktif, 2010).
Dunia, khususnya Indonesia membutuhkan sumber energi alternatif untuk mengatasi pemenuhan kebutuhan listrik. Hal dapat dilakukan dengan pembuatan pembangkit baru yang memiliki daya yang mampu memenuhi kebutuhan listrik nasional yang semakin besar. Maka opsi nuklir merupakan suatu solusi yang diharapkan dapat mengurangi tekanan dalam masalah penyediaan energi khususnya listrik di Indonesia. Energi nuklir saat ini merupakan energi yang sangat berpengaruh dalam produksi listrik berbagai negara di atas bumi ini dan telah memenuhi 16% kebutuhan energi listrik di dunia. Pemanfaatan teknologi nuklir dengan pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Indonesia dapat menjadi salah satu alternatif solusi untuk mengatasi krisis energi listrik. Meskipun menuai pro dan kontra, banyak hal positif yang akan diperoleh Indonesia jika pemanfaatan nuklir dapat direalisasikan dengan prosedur yang baik dan benar.

Tujuan
Pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi alternatif adalah hal yang menarik untuk dikembangkan. Kandungan energi yang tersimpan dalam nuklir sangat besar, energi panas yang dihasilkan dari pembelahan 1 kg nuklir 235U adalah sebesar 17 milyar kilo kalori atau setara dengan energi yang dihasilkan dari pembakaran 2,4 juta kg (2400 ton) batu bara. Energi yang sangat besar tersebut dapat dimanfaatkan dengan cara: 1.Memberikan gagasan bahwa nuklir dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik alternatif yang aman, ramah lingkungan, dan ekonomis yaitu dengan pembangunan PLTN di Indonesia. 2.Memberikan langkah alternatif dalam pembangunan PLTN di Indonesia supaya dapat diterima oleh berbagai pihak.

Manfaat
Manfaat dari penulisan gagasan tertulis ini adalah dapat memberikan solusi alternatif dan kontribusi pemikiran bagi pemerintah dalam menanggulangi permasalahan kurangnya pasokan listrik di Indonesia melalui pembangunan PLTN. Pembangunan PLTN di Indonesia sejauh ini banyak menuai pro dan kontra, melalui gagasan tertulis ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah dalam pembangunan sekaligus pengembangan PLTN agar dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat dengan baik. Selain itu gagasan ini juga dapat memberikan gambaran kepada berbagai pihak khususnya masyarakat Indonesia untuk tidak perlu mengkhawatirkan pembangunan PLTN di Indonesia yaitu dengan cara pemanfaatan nuklir secara tepat, aman, dan ramah lingkungan.

GAGASAN
Kondisi Kekinian Pembangunan PLTN di Dunia dan Indonesia
Sampai saat ini belum ada satu pun PLTN yang dapat dioperasikan untuk mengurangi kebutuhan pasokan energi listrik di Indonesia. Padahal energi nuklir telah memasok hingga sebesar 16% dari total pasokan energi di dunia. Berdasarkan statistik PLTN dunia pada tahun 2002 terdapat 439 PLTN yang beroperasi di seluruh dunia dan 35 lainnya dalam tahap pembangunan. Kebanyakan PLTN baru yang akan dibangun berada di beberapa negara Asia dan Eropa Timur. Memang di negara yang maju tidak ada PLTN baru, tetapi hal ini bukan berarti bahwa proporsi energi listrik dari PLTN akan berkurang. Di Amerika, beberapa PLTN telah mendapatkan lisensi perpanjangan untuk dapat beroperasi hingga 60 tahun, atau 20 tahun lebih lama dari lisensi awalnya. Energi nuklir telah diakui sebagai salah satu sumber energi paling potensial, berteknologi tinggi, berkeselamatan handal, ekonomis, dan ramah lingkungan, serta merupakan energi alternatif yang layak untuk dipertimbangkan dalam Perencanaan Energi Jangka Panjang bagi Indonesia. Tetapi sayang sekali hal ini kurang disadari oleh sebagian masyarakat Indonesia. Menurut Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Dr. Hudi Hastowo, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia diundur. Sedianya tahun 2003, pemerintah berencana membangun PLTN pada 2016. Namun, berdasarkan realitas tahun 2010, pembangunan ini diperkirakan baru terealisasi tahun 2020 (Kompas, 2010).

Sejarah PLTN dan Solusi Yang Pernah Ditawarkan
Di Indonesia, ide pertama untuk pembangunan dan pengoperasian PLTN sudah dimulai pada tahun 1956 dalam bentuk pernyataan dalam seminar-seminar yang diselenggarakan di beberapa Universitas di Bandung dan Yogyakarta. Meskipun demikian, ide yang sudah matang baru muncul pada tahun 1972 bersamaan dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (Departemen PUTL). Kemudian berlanjut dengan diselenggarakannya sebuah seminar di Karangkates, Jawa Timur pada tahun 1975 oleh BATAN dan Departemen PUTL, dimana salah satu hasilnya suatu keputusan bahwa PLTN akan dikembangkan di Indonesia. Pada saat itu juga sudah diusulkan 14 tempat yang memungkinkan di pulau Jawa untuk digunakan sebagai lokasi PLTN, dan kemudian hanya lima tempat yang dinyatakan sebagai lokasi yang potensial untuk pembangunan PLTN. Telah dilakukan pula bererapa studi tentang beberapa lokasi PLTN, serta diambil suatu keputusan bahwa semenanjung Muria adalah lokasi yang paling ideal dan diusulkan agar digunakan sebagai lokasi pembangunan PLTN pertama di Indonesia. Disusul kemudian dengan pelaksanaan studi kelayakan yang bekerja sama dengan berbagai pihak asing seperti IAEA, dan pemerintah Italia. Dan menurut studi kelayakan tersebut diperkirakan bahwa sebagai tahap dasar, pasokan energi yang akan dihasilkan di Muria mampu mendukung sistem kelistrikan Jawa – Bali.

Kehandalan Gagasan
Dewasa ini banyak sekali kontroversi mengenai rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Pembangunan PLTN ini dicanangkan pada tahun 2016 mendatang oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), tetapi karena berbagai kontroversi tersebut diperkirakan pembangunan PLTN dapat mundur menjadi tahun 2018. Kontroversi pembangunan PLTN tersebut terjadi karena berbagai kecelakaan nuklir yang telah terjadi dan kurangnya pengetahuan akan PLTN itu sendiri. Kebanyakan masyarakat Indonesia saat mendengat kata nuklir, maka yang terlintas dalam pikirannya adalah bom atom yang telah menelan banyak korban jiwa, tidak banyak yang mengetahui bahwa nuklir tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik yang menghasilkan daya cukup tinggi. Menurut Andang Subaharianto (2004) dalam bukunya yang berjudul Madura Bicara PLTN, pemahaman masyarakat akan nuklir, terutama PLTN dibagi menjadi tiga kategori besar, yaitu:
1.Kategori paham
2.Kategori tahu
3.Kategori mendengar
Masyarakat Indonesia masih banyak yang berada dalam kategori mendengar atau tingkatan terendah dalam pemahaman tentang nuklir. Nuklir bagi kategori tersebut adalah gambaran yang menakutkan dan merupakan sumber bencana yang telah terbukti merusak kehidupan seperti bom atom, perang nuklir, dan mutasi gen.
Di tengah rencana pemerintah dalam membangun PLTN, transfer pengetahuan kepada masyarakat kategori mendengar maupun kategori tahu tampaknya perlu mendapatkan perhatian lebih. Penyuluhan kepada masyarakat telah berjalan tetapi tidak banyak memberikan pengaruh kepada masyarakat luas karena sasaran penyuluhan biasanya hanyalah orang-orang tertentu dan jumlah pesertanya relatif sedikit. Memasukkan pengetahuan tentang PLTN ke dalam kurikulum pendidikan adalah salah satu alternatif untuk memberikan dampak yang lebih signifikan. Karena dampak yang dirasakan tidak hanya pada segelintir orang saja dan pengaruh yang dihasilkan akan berdampak cukup luas dan berkerangka jangka panjang.

Pihak-Pihak Terkait
Adapun pihak-pihak terkait yang dapat membantu mengimplementasikan gagasan ini antara lain Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Mandikdasmen) Kementerian Pendidikan Nasional, dan guru-guru baik di SD, SMP, dan SMA berserta sekolah yang bersangkutan. Dalam hal ini, BATAN merupakan lembaga yang memiliki otoritas untuk menangani masalah teknologi nuklir di Indonesia. Kemudian untuk merealisasikan gagasan ini, dibutuhkan peran dari Ditjen Mandikdasmen sebagai lembaga yang memiliki tugas untuk merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang manajemen pendidikan dasar dan menengah. Sedangkan pihak sekolah mampu untuk membantu mengimplementasikan kurikulum yang dimuati pendidikan nuklir di sekolah yang bersangkutan. Kemudian guru dalam hal ini memiliki peran yang sangat penting karena guru bertugas untuk mengimplementasikan pendidikan tentang PLTN yang telah masuk dalam manajemen kurikulum pendidikan nasional kepada para siswa.

Langkah-Langkah Strategis Penerapan
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah studi pustaka dari sumber-sumber yang dapat dipercaya mengenai pendidikan serta permasalahan PLTN dan implikasinya terhadap masyarakat. Setelah itu membuat gagasan tertulis berdasarkan data-data yang valid hasil dari studi pustaka yang telah dilakukan. Kemudian Untuk mereliasasikan gagasan tertulis ini, diperlukan peran serta yang riil dari berbagai pihak termasuk mahasiswa. BATAN harus menjalin korelasi yang lebih erat dengan Kementerian Pendidikan Nasional dalam memasukkan pendidikan PLTN sebagai materi pengayaan atau tambahan dalam kurikulum pendidikan nasional. Untuk mewujudkan hal ini, mahasiswa dapat menyampaikan gagasannya melalui Ditjen Mandikdasmen yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional dan secara langsung kepada BATAN dengan menggunakan surat elektonik. Kemudian pihak sekolah yang diamanahi untuk mengimplementasikan kurikulum inovatif yang dimuati tentang pendidikan nuklir ini mampu menjelaskan dan memberikan arahan kepada para guru untuk merealisasikannya dan juga bisa berperan aktif seperti mengajak para siswa mengunjungi suatu lembaga yang berhubungan dengan masalah energi khususnya teknologi nuklir. Selanjutnya peran guru sebagai tenaga pendidik sangatlah penting untuk menyampaikan pengetahuan atau mensosialisasikan tentang rencana pembangunan PLTN kepada anak-anak didiknya agar kesadaran pentingnya PLTN dapat mereka rasakan.

KESIMPULAN
Gagasan yang Diajukan
Pengetahuan tentang PLTN seharusnya tidak hanya disampaikan kepada golongan orang dewasa, anak-anak dan remaja pun perlu memperoleh pengetahuan tersebut. Masa anak-anak adalah tahapan operasi konkret, merupakan masa yang gemilang dalam menerima pengetahuan, seseorang mudah memasukkan suatu pengetahuan tertentu kepada anak-anak terutama anak-anak usia sekolah dasar. Anak-anak merupakan sumber daya manusia di masa depan. Harapannya suatu saat nanti saat pembangunan PLTN mulai dilaksanakan, akan menekan jumlah paranoid atau ketakutan masyarakat dengan pelaksanaan pembangunan tersebut. Anak-anak yang mendapatkan pengetahuan tentang bahaya dan kegunaan nuklir akan menjadi siap dengan pembangunan tersebut.
Sains atau ilmu pengetahuan alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari tentang alam dan gejala-gejalanya. Sains merupakan bidang ilmu yang tepat untuk memasukkan pengetahuan tentang PLTN ke dalam kurikulum pendidikan. Pengetahuan tentang PLTN dapat disisipkan dalam pembelajaran Sains Sekolah Dasar.
Struktur Program Kurikulum Sekolah Dasar memuat jumlah dan jenis mata pelajaran yang ditempuh dalam satu periode belajar selama 6 tahun mulai kelas 1 sampai dengan kelas 6. Khusus untuk Sekolah Dasar kelas 1 sampai kelas 3 menggunakan Pendekatan Tematik yang disajikan 26/27/28 jam pelajaran per minggu termasuk di dalamnya terdapat pembelajaran Sains.
Dalam pembelajaran Sains Sekolah Dasar, pengetahuan nuklir telah masuk pada materi kelas 3, yaitu pada bab energi. Dalam kompetensi dasar bab tersebut, siswa mengidentifikasi sumber energi dan kegunaannya. Energi nuklir dijelaskan sebagai energi yang tersimpan dalam atom dari unsur-unsur nuklir, contohnya pada ledakan bom atom. Selanjutnya adalah menambahkan indikator yaitu penjelasan tambahan bahwa nuklir tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk kebaikan, seperti PLTN. Jumlah energi yang dihasilkan oleh nuklir jauh lebih besar dibandingkan sumber energi lain seperti batu bara.
Kemudian untuk tingkat Sekolah Menengah (SMP) dan sederajat maka pengetahuan tentang energi nuklir harus kembali dimasukkan dalam kurikulum agar semakin memantapkan pengetahuan siswa. Bab Energi dan Usaha dan Listrik Dinamis merupakan materi pokok yang cocok untuk memasukkan pengetahuan tentang nuklir. Di kelas VIII semester 2 bab mengenai Energi dan Usaha memiliki kompetensi dasar yaitu menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip usaha dan energi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya dapat dilakukan tambahan indikator perihal masalah PLTN yaitu tentang perubahan energi apa saja yang tejadi pada proses PLTN dan hubungan perubahan energi tersebut satu dengan yang lain. Kemudian ditambah lagi pada bab Listrik Dinamis untuk pengayaan yaitu penambahan suatu info tentang pembangkit-pembangkit listrik yang sudah diterapkan di Indonesia dan dampaknya seperti apa, kemudian dibandingkan dengan PLTN suatu pembangkit tenaga listrik yang belum pernah direalisasikan di Indonesia serta manfaat yang dirasakan oleh masyarakat luas jika PLTN segera terealisasikan seperti daya listrik yang dihasilkan, ramah lingkungan, SDM Indonesia yang mendukung dan juga biaya yang relatif murah. Selanjutnya untuk pendidikan SMA di mana di SMA ini siswa akan dibagi menjadi beberapa jurusan yaitu jurusan IPA, IPS dan BAHASA. Di jurusan IPS dan BAHASA maka mata pelajaran IPA tidak akan ditempuh oleh para siswa tetapi bukan berarti pendidikan masalah kenukliran akan berhenti begitu saja. Oleh karena itu PLTN tidak hanya dibahas dari sudut pandang ilmu pasti saja, tetapi juga dapat dibahas dari ilmu-ilmu sosial. Untuk jurusan IPS maka mata pelajaran ekonomi cukup kuat untuk menjadi fondasi pengetahuan siswa tentang manfaat yang luar biasa yang didapat dari PLTN. Di kelas X dibahas mengenai pendapatan nasional. Di bab ini dijelaskan mengenai pemahaman tentang Produk Domestik Bruto (PDB), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Pendapatan Nasional Bruto (PNB), Pendapatan Nasional (PN). Pengetahuan kenukliran ditinjau dari sudut ekonomi dapat dimasukkan ke dalam bab tersebut yaitu penjelasan tentang akan menjadi semakin hematnya devisa negara Indonesia dengan memanfaatkan PLTN. Di mana biaya yang digunakan dalam pengoperasian PLTN ini relatif murah dibandingkan listrik tenaga fosil dan pembangkit listrik alternatif lainnya. Sehingga hal ini akan berpengaruh besar terhadap perekonomian Indonesia. Pada jurusan IPA yang memiliki korelasi terhadap teknologi kenukliran maka pengayaan harus kembali dilakukan agar fondasi ilmu kenukliran khususnya PLTN akan semakin kokoh. Di kelas 3 SMA bab mengenai inti atom dan radioaktivitas bisa menjadi penjelasan pamungkas tentang masalah PLTN. Di mana di bab ini penjelasan lebih rinci tentang PLTN menjadi bagian pengayaan. Penjelasan lebih rinci tentang PLTN ini seperti jenis-jenis PLTN, yaitu reaktor Fisi, reaktor Thermal, reaktor Fusi dan reaktor cepat lalu disertai dengan penjelasan-penjelasannya. Menjelaskan prinsip kesetaraan massa dan energi pada konsep energi ikat inti yang berhubungan dengan teknologi kenukliran. Menjelaskan tentang besarnya energi yang dihasilkan dari suatu reaksi inti. Kemudian di jurusan BAHASA maka mata pelajaran sosiologi bisa dijadikan alternatif solusi yang dapat dimasukkan pengetahuan tentang nuklir. Bab tentang “Sosialisasi dan pembentukan kepribadian” kelas IX semester 2 bisa dimasukan pengetahuan tentang PLTN di mana sosialisasi mengenai pengetahuan PLTN ini mampu membentuk fondasi pribadi dari seseorang.

Teknik Implementasi
Untuk mengimplemtasikan gagasan ini diperlukan sinergitas dari berbagai pihak. Mulai dari Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Mandikdasmen) Kementerian Pendidikan Nasional, dan guru-guru baik di SD, SMP, dan SMA berserta sekolah yang bersangkutan. Selanjutnya agar gagasan ini dapat diketahui banyak orang maka dapat disebarluaskan di situs-situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, koprol dan blog-blog pribadi. Gagasan ini dapat juga disebarluaskan kepada para mahasiswa serta para dosen yang ada di perguruan tinggi negeri maupun swasta dengan cara diskusi atau seminar.

Prediksi Hasil
Dari hasil telaah pustaka yang dilakukan maka melalui gagasan tertulis ini akan memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pemahaman masyarakat tentang manfaat yang sangat luar biasa dari PLTN dibandingkan pembangkit-pembangkit listrik lainnya ditinjau dari daya listrik yang dihasilkan, biaya yang lebih murah, dan ramah lingkungan. Sehingga kontroversi mengenai penolakan terhadap pembangunan PLTN dapat didekonstruksi oleh suatu pemahaman yang cukup baik. Karena pendidikan merupakan suatu fondasi, yang ditanamkan sejak dini dan akan berdampak pada kerangka berpikir jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA
http://batan.go.id/ppn/tu/sejarah%20PLTN.htm [19 Januari 2011]
http://www.tempointeraktif.com [19 Januari 2011]
http://nasional.kompas.com/read/2010/04/30/13310043/Mundur.Pembangunan.PLTN.di.Indonesia [22 Februari 2011]
http://www.pelangi.or.id/othernews.php?nid=3277 [20 Januari 2011]
Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia. 2009. Krisis Energi. http://www.deplu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=6&l=id [21 Januari 2011]
PLN. 2010. Menuju Bebas Pemadaman Listrik Bergilir. http://www.pln.co.id/pro00/news/siaran-pers/73-siaran-pers/200-menuju-bebas-pemadaman-listrik-bergilir.html [21 Januari 2011]
Subaharianto, Andang, dkk. 2004. Madura Bicara PLTN. Jember: UPT Penerbitan Universitas Jember
Susanto, Rudi. 2008. PLTN Solusi Alternatif Kekurangan Listrik Nasional. http://rudi.staff.uns.ac.id [19 Januari 2011]
Tempointeraktif. 2010. Indonesia Baru Memiliki PLTN 2018-2020. Wahyudi, Catur. Implikasi Sosiologi. Universitas Merdeka; 1994. hlm 89-93 Wikipedia. 2011. Daftar Negara Menurut Jumlah Penduduk. http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_jumlah_penduduk [21 Januari 2011]
 
save_Na Blogger Template by Ipietoon Blogger Template