cerita di Juni lalu, baru ter-post skrg :)
Selama sepuluh hari sebagai Liaison Officer (baca: Li-e-song officer) 4th Asean School Games di kota Pahlawan yang ramai ini sungguh aku benar-benar merasa sepi . Masih tak mudah bagiku untuk langsung beradaptasi dengan lingkungan baruku. Rekan-rekan kerjaku berasal dari universitas-universitas ternama. Mereka juga bukan orang biasa di kampusnya. Ada yang menjabat dalam organisasi tertinggi di kampusnya, ada pula yang sudah biasa cap-cip-cus bahasa inggris karena memang anak sastra inggris, ada yang sudah biasa bolak-balik luar negeri, bahkan ada pula yang sudah jadi dosen. Sedang aku hanya anak bau kencur dari universitas yang katanya pinggiran.
Waktu yg lama untuk beradaptasi membuat aku harus berani berjalan sendiri, mandiri di kota yang aku tak begitu mengenalnya. Ya mulai cari kosan sendiri, survey hotel sendiri, ke bandara sendiri, naik angkot sendiri, hampir semuanya sendiri.
Berbekal sepeda yang aku pinjam dari mas Ari, setiap pagi pukul 5 aku berangkat menuju hotel Equator (tempat kerja) dan malamnya jam10-11 aku pulang menuju kos di daerah Karangmenjangan ==> naasnya aku selalu nyasar… T_T aku hanya ditemani peta sebagai penunjuk jalan dan sesekali bertanya pada orang. Petunjuk yang aku lalui selalu sama, peta Surabaya yang kupakai juga cuma satu, tapi entah selalu saja ada jalan yang terlewat atau salah belok. Akibatnya perjalanan yang seharusnya hanya 20 menit, bisa-bisa jadi sekitar 45 menit sampai se-jam. Rasanya pingin nangis, setiap malam , aku selalu nyasar, sampai di kosan baru jam 11 atau 12. Dan ini terjadi sampai 5 hari berturut-turut.
Sepeda pinjaman dari Mas Ari tidak bisa penuh 10 hari kupinjam karena harus dibawa ke Madura, tempat masku bekerja. Di malam itu, senin malam aku harus menjemput Mas Ari di terminal Bungurasih. Lagi-lagi berbekal peta dari google map, aku memberanikan diri pukul 12 malam menjemput mas Ari. Di tengah kejenuhan selama 5 hari itu aku berusaha menguatkan diri.
Aku benar-benar ingin segera bertemu mas Ari. Tapi lagi-lagi aku nyasar. Kali ini bukan hanya di sekitar kota, aku hampir saja memasuki daerah kota Sidoarjo. Di telepon, mas Ari menuntunku arah jalan seharusnya. Aku pura-pura tegar, tak sedikitpun air mata aku keluarkan. Akhirnya aku sampai di tempat mas Ari menunggu, 30 menit terlambat dari waktu seharusnya.
Sungguh aku sangat bersyukur saat itu, aku merasa lega. Kini saatnya mas Ari mengantarku kembali ke kosan. Malam semakin dingin, aku dekap tubuh mas Ari. Rasa senangku masih bercampur dengan rasa takut. Tak terasa sesuatu menetes dari pelupuk mataku, namun masih saja kusembunyikan. Malam itu aku benar-benar merasa terlindungi. Aku tak ingin berpisah, aku ingin mengatakan aku takut sendiri. Aku tak berani sendiri, aku ingin mas tetap tinggal di sini.
Memori masa lalu, saat kami kecil, yang kutahu dia kakak yang jahil. Ada saja kelakuannya yang bisa membuatku menangis. Di malam itu, dini hari di kota Surabaya, aku benar-benar rindu dia. Mas Ari, dibalik kekerasan wataknya, dia satu-satunya lelaki yang bersedia menemani saat yang lain tak ada, lelaki yang melindungiku saat aku terancam. (setidaknya sampai nanti ada lelaki lain, hehe)
Friday, December 21, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment