
Hanya di jantung kota, jantungku dapat berdetak kencang hingga seolah-olah ia ingin keluar dari tempat asal mulanya. Hanya jantung kota yang selama ini lekat dalam dadaku di manapun aku berada. Aku tidak bisa mengingkari bahwa aku memang tidak bisa menduakan sang jantung kota. Hanya jantung kota yang mengajarkanku lebih tentang arti pesaudaraan dan persahabatan. Dari jantung kota berawal, aku melangkahkan kaki mengetahui dan mengenal dunia, mengejar dan meraih cita-citaku. Dari jantung kota aku belajar untuk lebih mendekatkan diri padaNya, untuk selalu tertunduk malu padaNya sang Maha Pencipta. Jantung kota guruku tercinta. Jantung kota tempat favoritku. Jantung kota, dari sini langkahku dimulai…
Jantung kota yang berharga itu…sebelah barat alun-alun kota Bondowoso, selatan Kodim Bondowoso, utara SDN Kotakulon 1 Bondowoso, dan di sebelah timurnya pemakaman umum kelurahan Kotakulon Bondowoso. Dia… Masjid Agung At-Taqwa kabupaten Bondowoso…masjid pusat nan megah di Bondowoso dengan kubah berwana emas.
Aku merasa berjodoh dengan sang jantung kota. Aku bersyukur saat taman kanak-kanak ibuku mengantarku untuk bersekolah di sana meskipun sekolah itu tergolong baru dan belum benar teruji kualitasnya. Saat memasuki usia sekolah dasar, ibuku pun kembali mengantarku ke Madrasah Ibtidaiyah At-taqwa. Sungguh aku berssyukur bisa bersekolah di sana sebagai angkatan keempat. Pada angkatanku itu hanya terdiri atas 51 orang siswa karena sekolah ini juga baru tahun keempat dibangun, tergolong sedikit dibandingkan sekolah lain.
Delapan tahun aku selalu bersama jantung kotaku, tapi saat itu aku belum sadar bahwa ia adalah jodohku kelak. Setelah lulus sekolah MI, akhirnya aku harus berpisah dengan jantung kotaku karena saat itu belum didirikan sekolah menengah. Memasuki tahun ketiga aku sekolah menengah, datang seorang ‘utusan’ jantung kota yang menawarkanku untuk mengikuti suatu kegiatan di jantung kota. Sempat aku berfikir untuk tidak mengikutinya karena kegitan itu berlangsung cukup lama, setengah bulan. Namun hidayah Allah yang menuntunku, akhirnya aku ikut kegiatan Pesantren Romadhon tahun 2005 angkatan XXIV. Dari sinilah aku mulai melangkahkan cintaku kembali bersama jantung kota.
Aku kembali menjadi keluarga besar sang jantung kota sebagai Remaja Masjid Agung At-taqwa, insyaAllah keanggotaanku di sini berlaku seumur hidupku. Ini tahun keenamku bersama sang jantung kota. Terlalu banyak canda bahkan tangis di sana bersama sahabat-sahabat tercinta yang sudah kuanggap keluarga sendiri. Dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya kami jalani bersama, kami berjuang atas nama sang jantung kota. Masjid Agung At-taqwa…di manapun aku kini, kapanpun jua saatnya, bagaimanapun kondisinya..you’re always in my heart… <3


0 komentar:
Post a Comment