Kamis, 15 Februari 2018
Tahun yang berbeda, tidak seperti biasanya, ada perubahan nama kelas di madrasah kami, 7b menjadi 7c, kelas yang beranggotakan 28 orang putri di dalamnya dan aku walinya. 7classics sebutannya, tak mudah mengenal satu per satu dari mereka bagiku. Butuh beberapa waktu cukup lama hingga tanpa terasa bukan hanya nama saja yang aku kenal, tapi bagaimana masing-masing pribadi dan kehidupan mereka.
Aku bukanlah seseorang yang mudah membaur. Hanya sedikit usaha kecil kucoba lakukan; agar mereka tak kecewa dengan diriku. Sekedar menyapa melalui buku penghubung, bermain games ala-ala yang simpel, ataupun candaan berupa gojlokan melalui Whatsapp.
Hingga kukatakan dalam diriku sendiri bahwa aku akan melakukan yang terbaik untuk mereka. Agar mereka menjadi anak-anak yang percaya diri, pun agar kelas ini menjadi kompak. Makan besama, membuat hiasan bersama, ini itu bersama, sampai suatu hari kami ‘berlibur’ bersama. Waktu tidak dapat diputar kembali, seandainya aku mengerti.
Jumat, 5 Januari 2018, diiringi dengan bacaan Al Kahfi, Dela, bagian keluarga kami, pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Maafkan bu Sef, Nak. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha.
…
Bagai godam besar yang menghantam, tak sanggup rasanya kembali. Tapi aku ingat janjiku, harus bangkit mengumpulkan pecahan puing dan melakukan yang terbaik untuk mereka, untuk kelas ini. Meski akhirnya skenario-Nya pun berkata lain, aku harus kehilangan mereka semua sebagai sangsi atas kelalaianku.
Ini adalah hari-hari terberat yang pernah kulalui, bukan karena tempat baruku tapi karena tidak bisa melihat canda mereka setiap hari lagi. Aidiel dengan gaya tertawanya, Dania dengan cueknya tapi baik sih kata temannya, Khanza yang pendiam tapi kadang jail, Bela dengan caranya mimpin kelas, Siti yang diem kalau di depanku tapi ternyata jadi pelawak kelas, Fanda yang tanggung jawab pake banget dengan tagihan kasnya, Rames yang agak ngalem dan sebenernya narsis, Tika sang pendekar yang ternyata vokalis, Lala penyanyi yang cerewet, Iak sang vokalis hadrah, Kiki yang gak mau mondok soalnya gak bebas pegang HP, Novi si adek kecil, Milka anak pondok yang sekarang sudah mulai pede, Rima yang sholehah dan pendiem, Shofi yang cerewet juga, Kunsa yang masih belajar fokus sama belajar dan gak liat yang gak gak, Nilam yang suaranya besar dan badannya juga tinggi besar, Dive yang cerewet juga tapi ga begitu dan lebih lemah lembut, Uut yang strong dan tangguh, Ayu yang pinter dan strong, Naya yang cueerewetzz dan gayanya cuek abis, Angel yang diam-diam rajin ngaji dan hafalannya lumayan banyak, Farah yang baik dan pendiem, Nadya IM yang harus semangat lagi biar bisa rangking paralel, Tina yang pinter banget dan harus bisa berbaur dengan temannya, Windi yang nyuruh temannya reme tapi dia juga gak kuat buat rame, Bilqis yang punya telent jadi drummer, Ani anak bau eh baru yang pinter.
Semua kenangan bersama mereka memanglah masa lalu tapi semua sudah terukir dalam ruang khusus di hati ini, sampai kapan pun. Dinding-dinding kelas pun telah menjadi saksi atas rasa sedih dan bahagia yang telah dilalui bersama. Di sana pula kami mengucap dan mengejar mimpi. Ingin ku suatu saat bisa melihat mereka tersenyum karena apa yang mereka tulis dan tempel sebagai mimpi telah tercapai, meski dari jauh. :')
Terima kasih untuk semua, Nak. Doaku selalu menyertai, dan aku saksi bahwa mereka adalah anak-anak baik yang selalu ingin berubah menjadi lebih baik, mereka anak-anak sholihah yang taat, mereka murid-murid yang patuh. Semoga Allah memudahkan langkah mereka dan ridho Allah selalu menyertai
NB: Bohong banget kalo bilang sudah move on, menghibur diri guehh…hehehehe
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment